Analisa Investasi Toyota Agya

Beberapa waktu yang lalu , seorang teman yang berprofesi sebagai salesman Toyota menawarkan “mobil murah“ Toyota ToyotaAgyaAgya kepada saya. Menurut saya modelnya cukup unik dan harganya ternyata murah, hanya sekitar Rp.100 juta rupiah saja. Iya, Toyota Agya dan kembarannya Daihatsu Ayla adalah jawaban Toyota atas aturan LCGC (Low Cost Green Car) yang tengah digodok pemerintah. Inti peraturan ini adalah pemerintah akan memberikan insentif kepada ATPM (Agen Tunggal Pemegang Merek) yang mampu menciptakan kendaraan yang irit bahan bakar dan kandung lokalnya mencapai 85%. Sudah irit , harganya murah pula. Rasanya cocok bagi Anda yang mencari kendaraan untuk istri atau baru saja mulai bekerja. Well, disini saya tidak akan bahas mengenai model ataupun kelebihan daripada mobil ini, namun yang menarik bagi saya adalah pendanaannya. Bagi Anda yang tengah inden, mari kita cermati aneka tawaran lembaga pembiayaan mulai dari Perbankan, Multifinance hingga Syariah.

Cover Analisa Investasi

Langkah I: Mengumpulkan Data

Cerita ini pasti familiar bagi Anda yang tinggal di kota sebesar Jakarta. Untuk mempermudah, anggap saja ada seorang teman kita bernama Tommy yang baru saja memulai bekerja dan belum menikah. Karena jarak antara tempat tinggal Tommy dengan kantornya cukup jauh, dari Bekasi ke Sudirman maka Tommy memerlukan kendaraan yang handal tetapi masih dengan harga yang terjangkau. Akhirnya Tommy menjatuhkan pilihan pada Toyota Agya dengan banderol Rp.100 juta. Maklum namanya juga baru mulai bekerja, tabungan juga baru terkumpul sedikit-sedikit dan masih awam soal otomotif alias takut kalau harus membeli kendaraan bekas.  Familiar kan dengan ceritanya? :) ProfilPembeliToyotaAgyaSingkat cerita, karena Tommy juga belum lama bekerja dan tabungan juga masih sedikit, maka Tommy memutuskan untuk mencari pinjaman. Tapi harus meminjam dari siapa? Bank, Multifinance ataukah Syariah? Maklum, karena belum pernah punya pengalaman pinjaman sebelumnya, maka Tommy sempat kebingungan sendiri. Akhirnya Tommy memutuskan untuk berkeliling disekitar tempat tinggalnya dan akhirnya berhasil mendapatkan beberapa simulasi pinjaman untuk kendaraan Toyota Agya yang diincarnya.

(note: Simulasi dilakukan per Desember 2012)AnalisaInvestasiToyotaAgyaDari hasil pembicaraan dengan tim marketing dari perusahaan-perusahaan pembiayaan tersebut, akhirnya Tommy jadi mengerti kalau ternyata maksimal angsuran yang diperkenankan adalah sebesar 35% dari gaji. Pembatasan ini seringkali disebut dengan DBR (Debt Burden Ratio) atau kemampuan mencicil. Maksudnya walau Tommy masih single alias bujangan namun sisa 65% dari penghasilan Tommy dimaksudkan sebagai biaya hidup. Toh, nanti diluar cicilan Tommy juga masih perlu dana untuk isi bensin, makan, hangout dan lain-lain kan? Masuk akal juga ya. :) Berbekal informasi ini, dengan kemampuan mencicil Tommy sebesar Rp.1.925.000,- maka sepertinya Tommy terpaksa harus mengambil tenor cicilan yang paling panjang dari masing-masing perusahaan pembiayaan tersebut. Sesudah berbagai simulasi pinjaman dari berbagai lembaga pembiayaan itu dirangkum , hasilnya menjadi sebagai berikut:TabelAngsuran

Langkah II: Menentukan Kriteria

Sesudah mendapatkan informasi yang lengkap, sekarang Tommy malah semakin bingung. Pilih yang mana ya? :D Sesudah berpikir keras , ibarat bertapa selama 3 hari dan 3 malam akhirnya Tommy merasa menemukan solusinya! ;) Langkah selanjutnya adalah menentukan kriteria-kriteria yang sekiranya penting bagi Tommy.KriteriaAnalisaInvestasiAkhirnya sesudah berdiskusi dengan tim AnalisaInvestasi.com :) , akhirnya Tommy menentukan 4 Kriteria untuk menentukan pinjaman yang akan diambilnya yaitu 1.DPnya harus ringan, 2.Cicilannya juga harus ringan, 3.Total Bayar sebisa mungkin tidak memberatkan , dan yang terakhir 4. Tenornya jika memungkinkan sesingkat-singkatnya.

Langkah III: Menentukan Bobot Untuk Masing-masing Kriteria

Sesudah kriteria ditentukan, maka langkah selanjutnya adalah untuk menentukan bobot dari masing-masing kriteria tersebut. Karena bagi Tommy ada kriteria yang dirasakan sangat penting , dan ada kriteria yang masih bisa ditoleransi atau dirasakan kurang penting. Dari hasil pembobotan terhadap masing-masing kritera akhirnya Tommy menyimpulkannya seperti pada tabel berikut ini:

BobotKriteria

Berhubung tabungan Tommy juga masih sedikit dan penghasilan juga belum besar-besar amat maka Tommy memutuskan bahwa yang paling penting baginya adalah DP dan cicilan yang ringan sehingga diberikan bobot yang paling tinggi yaitu x3 (dikali 3). Disamping itu, Tommy merasa bahwa total bayar cukup penting, sehingga diberikan bobot sebesar x2 (dikali 2). Terakhir, menyicil lama memang tidak menyenangkan tapi mengingat kondisi sekarang akhirnya Tommy merasa tenor cicilan hingga 5 tahun kurang penting baginya sehingga bobotnya x1 (dikali 1) .

Langkah IV: Evaluasi Pilihan berdasarkan hasil pembobotan

Sekarang sesudah pemberian bobot telah selesai, saatnya untuk memberikan nilai pada masing-masing lembaga pembiayaan. Untuk mempermudah proses penilaian , Tommy membuat panduan sederhana sebagai berikut:

SkorAnalisaInvestasiDari panduan diatas Tommy memberikan skor kepada masing-masing lembaga pembiayaan sesuai dengan kriteria yang telah dibuat sebelumnya, dengan tanda + menandakan mendapatkan nilai kurang, tanda ++ artinya nilainya baik, dan tanda +++ untuk yang nilainya istimewa. Akhirnya, berkat kegigihan Tommy :) hasilnya adalah sebagai berikut:

SkorLembagaPembiayaan

Sebagai contoh, untuk kriteria DP ringan BCA (Rp.42.394.500) dan CIMB Niaga (Rp.43.272.667) mendapat nilai kurang karena DPnya adalah yang paling tinggi,sedangkan CIMB Syariah (Rp.27.410.000) dan CNAF (Rp.25.056.000) mendapat nilai istimewa karena DPnya adalah yang paling ringan. Hal ini dilakukan seterusnya hingga kriteria terakhir yaitu Tenor dimana BCA (4th) mendapat nilai istimewa karena tenornya yang paling singkat sedangkan yang lainnya tenornya kesemuanya sama yaitu 5th. Dari hasil penilaian diatas, Tommy tinggal mengkalikan nilai-nilainya dengan bobotnya sehingga mendapatkan skor akhir sebagai berikut:

SkorAkhirAnalisaInvestasi

Dari hasil penilaian akhir pada tabel diatas terlihat bahwa CIMB Syariah dengan skor tertinggi (20) adalah lembaga pembiayaan yang paling pas dengan kriteria dan kebutuhan Tommy. DPnya ringan (Rp.27.410.000) dan cicilannya juga masih terhitung ringan (Rp.1.769.333) sehingga masih masuk dengan kemampuan mencicil / DBR Tommy yang sebesar Rp.1.925.000,-.

Bagaimana dengan Anda?

Apakah Anda memiliki pengalaman dengan kredit kendaraan bermotor? Apa kriteria yang penting bagi Anda dalam menentukan lembaga pembiayaan yang paling “pas” dengan Anda? Kami nantikan komentar dan pengalaman Anda disini.

Salam Analisa Investasi,



Inallius MaximuS

About Me

Selamat Datang di Analisa Investasi!
Hi , perkenalkan nama saya Inallius Maximus, penulis dan pendiri situs AnalisaInvestasi.com.

Di AnalisaInvestasi.com tujuan kami hanya satu, yaitu ikut mencerdaskan bangsa dengan pengetahuan seputar dunia investasi dengan cara yang mudah dan menyenangkan.


Untuk itu pada situs ini kami akan kupas tuntas analisa investasi independen kami mulai dari investasi pada properti, mobil, emas, surat berharga hingga saham !

Contact Me
Badgev2.0

Email me Inalliusmaximus[at]analisainvestasi.com

Follow Me
Archive
Article Calendar
January 2013
M T W T F S S
    Feb »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  
Copyright

© 2012 by Inallius MaximuS.

You're welcome to link to this site or use a single image and brief description to link back to any post. Republishing posts in their entirety is prohibited without permission.